Dunia Metaverse – The War Just Begin

4 min read

Dunia Metaverse dan Avatar Manusia

Matamu.NET – Tunggu dulu!!! Sebelum kita memulai pembahasan mengenai Dunia Metaverse, tolong jangan pernah katakan bahwa Lord Zuckerberg lah yang memulai istilah ini.

Yup!!

Paling tidak ini adalah pertanyaan yang paling banyak saya dapatkan dari teman-teman yang sedang mencari tahu mengenai Dunia Metaverse setelah Facebook memutuskan untuk berubah menjadi Meta. Selain itu Facebook yang dimaksud juga bukan Facebook.com tapi the entire platform yang berada di bawah naungan perusahaan Facebook. Facebook.com-nya sendiri tetap di Facebook.com lah.

Buktinya, rintangan pertama yang harus dilalui Zuckerberg setelah memutuskan menggunakan nama Meta adalah menghadapi tuntutan dari perusahaan Meta PC yang jauh lebih dulu mendaftarkan nama tersebut sebagai paten mereka.

Tapi ini bukan esensi Metaverse yang akan kita bahas, karena saya berusaha menghindari meng-Gibahi kehidupan Mark Zuckerberg.

Apa itu Metaverse?

Mungkin masih banyak catatan sebelum Neal Stephenson, tapi paling Buku yang ia tulis dengan judul Snow Crash pada tahun 1992 sudah menggunakan istilah Metaverse. Buku ini adalah buku Sain Fiksi yang terinspirasi dari penemuan jaringan internet global yang bisa digunakan secara bebas oleh sipil dan komersial. Padahal pada saat itu kecepatan Internet masih sangat super lambat.

Metaverse sendiri diartikan secara harfiah sebagai Dunia yang dibuat dari komputer. Aneh yah? Bahasa Inggrisnya tuh gini, A Computer-Generated Universe. Jadi Ide dari Neal Stephenson ini menjelaskan mengenai adanya dunia baru yang dibangun secara virtual setelah komputer dan jaringan berkembang.

Tulisan Neal ini menginspirasi banyak pola pikir mengenai adanya Dunia Metaverse termasuk salah satu film CGI yang banyak diperbincangkan pada masanya yakni Avatar. Jauh sebelum Avatar adalah film berjudul The Matriks yang sama-sama iconiknya.

Konsepnya cukup sederhana sebenarnya setiap orang punya avatar atau akun yang unik yang bisa mewakili diri mereka dalam berkomunikasi di dunia virtual. Defenisi dunia virtual private sendiri masih sulit dibayangkan pasalnya jaringan yang menghubungan masyarakat sipil ini teridir dari banyak paltform.

Yuk kita misalkan saja Twitter, masing-masing dari kita sudah memiliki akun yang mewakili diri kita di dunia virtual milik Twitter. Akun ini kita gunakan untuk berinteraksi satu sama lain bahkan dengan orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya.

Bedanya dengan dunia nyata hanya pada saat kita banyak utang. Di dunia nyata, kita bakalan ditagih sampai ke ujung dunia, tapi di dunia virtual milik Twitter berbeda. Jika kita sudah buat banyak masalah dengan akun kita, yah cukup hapus saja sebelum ketahuan di dunia nyata. Lalu buat lagi yang baru.

Dalam kasus ini saya ingin menjelaskan mengenai masalah eksistensi dari Avatar di Twitter yang kita buat tidaklah kaku tapi sangat fleksibel sehingga bisa jadi avatar tersebut bukan diri kita sendiri. Kita bisa berpura-pura menjadi orang lain bahkan menggunakan foto artis biar sedikit terlihat ganteng.

Di alam semesta, terutama tempat dimana manusia berinteraksi, Eksistensi dari setiap individu itu sangatlah penting karena tanpa adanya karakteristik unik dari masing-masing individu kita mungkin hanya sekumpulan manusia kera yang berjalan tegak dan mengenakan baju. Kehilangan satu orang di dalam rombongan bisa dengan cepat digantinkan dengan manusia kera lainnya.

Tapi tentu saja tidak demikian dengan manusia. Jangankan kehilangan anggota keluarga atau teman karena ekssitensinya sudah tidak ada di dunia alias mati, pacar yang diambil oleh orang lain saja bisa menghasilkan banyak cabang masalah. Ini adalah unsur-unsur psikologi manusia yang penting dan membedakan kita dengan avatar yang ada di Twitter.

Cukup dengan avatar Twitter!!! Saya ingin mengajak anda pindah paltform saja, soalnya Twitter pelit sih, huruf saja cuman dikasih 140 karekater.

Twitter be Like : Oii gua udah tambah sampai 280.

Bodo amatlah, pokonya saya mau pindah!!!!

Kita pindah ke Facebook saja. Di facebook dunianya jauh lebih asik. Tidak hanya 280 kata saja tapi juga pengguna yang lebih banyak. Lebih banyak interaksi yang bisa dilakukan dengan banyak orang. Semakin sering akun berkatifitas dan berinteraksi dengan orang lain dunia Facebook Universe semakin banyak informasi yang didapatkan dari akun.

Informasi tersebut misalnya lagu kesukaan berdasarkan yang dibagikan, berita yang dibaca, status yang dituliskan, teman dekat yang sering diajak berkomunikasi sampai lokasi-lokasi yang sering didatangi. Semuanya terekam dengan baik di data data facebook dan disimpan ke akun masing-masing orang.

Hal ini jauh lebih baik dari Twitter Universe karena jauh lebih bebas. Dampaknya Akun di Facebook Universe jauh lebih mirip dengan orang aslinya meskipun mungkin sedikit persen. Sedikit banyaknya, informasi mengenai karakteristik pribadi yang terekam di akun-akun tersebut sudah bisa dikategorigan avatar dari si pemilik akun.

Nah loh, kan bisa saja kita hapus akun kita jika sudah begitu menjijikkan atau terlalu alay, sama seperti di Twitter? Jadi apa bedanya?

Meskipun tidak sesempurna otentifikasi eksistensi individu ciptaan sang kuasa namun Facebook sudah berupaya keras dalam membatasi pembuatan akun. Sejak diperkenalkan ke publik tahun 2009 sampai tahun 2015, kita bisa dengan bebasnya membuat akun facebook hanya dengan menggunakan akun email, namun setelah kita membutuh verifikasi Identitas Resmi kenegaraan agar bisa membuat akun.

Di Indonesia, Identitas tersebut bisa diwakili KTP dan SIM namun entahlah saat ini apakah hanya bisa dilakukan dengan KTP saja atau SIM masih diperbolehkan. Artinya apa, meskipun kita berhasil membuat dua akun, Facebook akan dengan mudah menggabungkan informasi dari akun lama dengan informasi di akun baru anda. Apalagi sejak perkembangan Hardware super computer yang mendukung pengembangan AI, hal ini sudah tidak mustahil lagi untuk membuat dua akun berbeda dari orang yang sama dijadikan identik.

Yah tapi kan kita tidak setiap detik di Facebook? Jadi nasibnya paling jauh sama saja dengan Twitter. Yuk pindah ke paltform lain lagi yag lebih populer seperti Instagram.

Uniknya Facebook digadang-gadang sebagai perusahaan yang paling mumpuni diantara semua perusahaan yang rame-rame ingin membangun metaverse karena tidak hanya Facebook, Facebook ink juga puluhan perusahaan di bawah naungannya. Termasuk Instagram dan Whatsapp.

Jika tidak begitu percaya mungkin bagi anda pengguna Android bisa masuk ke menu setting lalu masuk ke daya dan energi. Disana anda bisa tahu seberapa lama anda menghabiskan waktu anda hari ini di Facebook, Instagram, dan WA. Semakin lama waktu yang anda habiskan di sana, maka akun anda semakin mirip dengan anda. Jadi boleh dong kalau saya menyebutnya Avatar anda.

Since Facebook, Instagram dan WA berada di perusahaan dan tersinkronisasi satu sama lain maka kita sudah punya Universe Digital yang digenerate komputer yang lebih luas dari Twitter.

Ilustrasi Metaverse

Is Metaverse War Just Begin?

Yup selain Facebook, ada banyak perusahaan dilaur sana yang ingin membangun Metaverse milik mereka. Tentu saja konsep utamanya adalah jumlah pengguna, lama pengunaan dan jenis interaksi. Microsoft punya satu game yang populer yang dibangun oleh akun dalam bentuk avatar yakni Minecraft, ada Fortnite, Mobile Legend mungkin juga bisa jadi masuk dalam arena tapi lagi-lagi tidak hanya dari jumlah penggunanya saja.

Combinasi aktifitas yang lebih beragam dan luasnya dunia yang disediakan menjadi kunci dari Metaverse. Jadi bisa jadi saya masih memilih Facebook di ajang taruhan Metaverse dibandingkan raksasa perusahaan seperti Microsoft dan sebagainya.

Tapi sebelum Facebook, saya punya penilaian tersendiri mengenai perusahaan yang jauh lebih unggul dalam membangun Metaverse atau mungkin sudah panen dari dunia Metaverse ciptaan mereka.

Yah apalagi kalau Google. Jika Facebook, Instagram dan WA kita gunakan setiap hari ketika layar sedang on. Google jauh lebih handal dalam mereka aktifitas kita. Bahkan terjadi di belakang layar mulai dari akun Gmail yang kita gunakan sebagai akun berbagai platform seperti Android, Google Search Enggine, Google Map, Youtube, Blogger, Google Meet, Google Form bahkan sampai Universe sebelah seperti Facebook, Instagram, Twitter, akun kampus dan sebagainya. Google Akun lah rajanya.

Apple yang canggih itu pun, sebagian besar Icloud-nya pun masih diverifikasi dengan akun Google. Dilihat dari ekspansi Bisnis dan jumlah Capitalnya Google masih di atas segalanya. Atau bahkan hampir tiada hari dari kita kita yang bisa hidup tanpa melibatkan Google baik aktif ataupun passif.

Jadi apa kita masih bisa mengatakan Metaverse just begin? atau lebih cocok disebut The Newbe is just arrive.

Akhir Kata

Artikel ini tidak berhenti disini saja, Karena bagian unik dari Metaverse bagi perusahaan adalah dampak finasial dan komersialisasi data akun dan bagi pengguna bisa jauh lebih indah dari itu. Atau, kita jadi sampah seperti orang-orang hidup yang mati seperti di film Wall E, dimana Manusia merelakan dirinya dikontrol oleh AI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.